Dari Pelepah
Pisang Menjadi Duta Kerajinan Tangerang
Selatan
Pelepah pisang yang kelihatannya tak berguna dan tak bermanfaat bisa disulap
menjadi sebuah tas yang cantik. Kerajinan tangan warga Komplek Pondok
Pucung II, Kelurahan Pondok Pucung, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangsel. Sudah
menembus pusat perbelanjaan skala besar , bahkan sampai ke Belanda dan Jamaika.
Saya pun baru tahu ternyata beliau adalah tetangga satu blok dari rumah kakek
saya. Lewat kreasinya ini Sebuah pelepah pisang disulap menjadi sebuah barang
yang berharga dan menghasilkan nilai jual yang tinggi . Namanya Bapak Achsin
Musoffar, Pria kelahiran Lamongan tahun 1949 ini mengaku bisnis yang ia geluti
berawal saat ia melihat banyaknya pelepah pisang yang tidak terpakai dan terbuang
dengan percuma . Awalnya pohon pisang di depan rumahnya sering ditebang,
bapak Achsin berpikir pohon pisang ini menganggu pemandangan dan membuat sampah
saat daun dan pelepahnya sudah layu.
Suatu hari ada hal yang menggugah pikirannya , “bisa gak ya bikin
kreasi lewat pelepah pisang ini “, dalam hatinya . Maka suatu hari bapak Achsin
memberanikan mengembangkan kegunaan pelepah
pisang untuk mencoba membuat kreativitas “ Tas dan Dompet “dari pelepah pisang.
Sebelumnya Bapak Achsin mengaku tas cantik yang ia buat saat ini adalah hasil dari
kegagalan saat pertama beliau membuat tas tersebut. Pembuatan kreativitas pelepah
pisang ini dibuat oleh beliau sejak tahun 1995 . Awalnya dia tak tertarik dengan
pengolahan pelepah pisang menjadi tas karena banyak hambatan yang dihadapinya
pada saat merintis usaha itu.Masalah
dari tenaga kerja, pembelajaran, pelatihan produksi ,sampai kepada melatih pasar (test market).
Untuk bahan baku
pembuatan tas atau dompet dipilih dari jenis pohon pisang batu,pohon pisang
raja serah ,dan pohon pisang mas. Proses menjadikan pelepah pisang menjadi
bahan baku pembuatan tas atau dompet tidak rumit dan juga tidak mudah. Proses pengolahannya pun
memakan waktu sepekan (seminggu). Hal ini dikarenakan pengaruh panas
matahari mempengaruhi kualitas pelepah pisang.
Proses pembuatan
diawali dengan penjemuran pelepah pisang secara keseluruan (seluruh lapisan mulai dari
lapisan satu hingga lapisan kelima).Lama penjemuran selama lima hari.Tujuan dari penjemuran agar warna pisangyang berwarna hijau dan penuh air itu akan menjadi
kering sama sekali karena kadar air pelepah pisang berkurang.Juga warna teksturnya berubah dari warna hijau
menjadi warna cream.
Kemudian menguliti
lapisan pelepah pisang itu mudah, harus dijaga kelembabannya. Cara agar
kelembabannya terjaga, dengan mengelap handuk yang diberikan air.Serat-serat dari pelapis itu akan terbuka sedikit
demi sedikit, mulai dari 4 cm hingga selanjutnya mengikuti dari panjangnya
lapisan itu.Perlu ketelatenan,
kesabaran, dalam pembukaan lapisan itu, jangan sampai robek, dan fungsinya
tetap lembut.
Selanjutnya
membuat pola . Pola tas, atau dompet itu berbentuk kotak sesuai dengan ukuran
tas dan dompet yang diinginkan. Untuk ukuran yang tanggung , ukuran dasar 7.6 x
2.8cm dan ukuran penegak7.5. x 7.5 cm Lalu lapisan pelepah itu dipotong
mengikuti pola. Selanjutnya dilapisi kertas karton menggunakan bahan perekat
lem agar produk itu dapat bertahan lama. Terakhir dibuatkan puring untuk
dijahit dan dipasang resleting.Satu
tas biasanya membutuhkan antara 10-15 kelopak pelepah pisang.Seni menempel itu dimanfaatkan untuk tata warna.
Ini adalah
hasil dari kerajinan tangan pelepah pisang tersebut :
Untuk pemasaran pertama show room yang
digunakan adalah rumahnya. Kemudian pemasaran merambah ke pusat perbelanjaan
ibu kota seperti Sarinah Thamrin, Blok M Plaza , Pasaraya. Kemudian beliau mencoba
memasarkan dikota sendiri ,yaitu tangerang selatan seperti di Plaza
Bintaro,Lotte Mall Bintaro,dan WTC Matahari Mall Serpong. Pemasarannya mulai
merambah ke luar negeri saat ada seorang eksportir yang bermukim di Bintaro untuk
memasarkan kerajinan tas serta dompet pelepah pisang ke jamaika dan Jepang.
Ditunjuk Sebagai Duta Kerajinan Tangan Tangsel
Dari niat untuk
sekedar mencoba usah akhirnya meraih keberhasilan bahkan berprestasi membanggakan
bagi Kota Tangsel. Bapak dua anak ini mendapatkan Predikat sebagai duta kerajinan tangan kota Tangsel .
Kesempatan
menjadi Duta kerajinan tangan membawa
peluang untuk memasarkan ke daerah-daerah di Indonesia. Salah satunya, kala menjadi
duta Kota Tangsel ke Batam, Kepulauan Riau. Dari Tangsel beliau dikirim untuk berbicara serta mengadakan
pameran di Batam ,Kepulauan Riau. Beliau menjadi
narasumber dalam kegiatan pelatihan itu yang diadakan Pemkot Tangsel, membantu
masyarakat mau belajar dan produksi tas pelepah pisang.
Beliau berpesan,”
Alam itu baik telah menyediahkan apa yang dibutuhkan oleh makhluk hidup
khususnya manusia.Gunakanlah dan manfaatkan segala yang ada didalam,ubahlah
dengan berkreativitas untuk menghasilkan sesuatu barang yang berkualitas. Dan yang
ingin mencoba berwirausaha jangan takut, menjadi wiraswasta mempunyai sensasii
tersendiri”. Papar beliau
Referensi wawancara langsung dengan Bapak Achsin Mudoffar


Tidak ada komentar:
Posting Komentar